Skip to main content

Alda Risma - Aku Tak Biasa


Mungkin diriku harus begini
Selamanya darimu
Atau ku harus mengakhiri
Cinta ini kepadamu
Kini cintaku telah kau bagi
Tak sanggup ku hadapi semua ini

Aku tak biasa bila tiada kau di sisiku
Aku tak biasa bila ku
Tak mendengar suaramu

Aku tak biasa bila tak memeluk dirimu
Aku tak biasa bila ku tidur
Tanpa belaianmu
Aku tak biasa aku tak biasa 

Ku coba untuk melepaskanmu 
Dari hatimu nanun tak bisa
Bayangan itu selalu mengganggu 
Dalam tudurku ku menangis

Kini cintaku telah kau bagi
Tak sanggup ku hadapi semua ini

Aku tak biasa bila tiada kau di sisiku
Aku tak biasa bila ku
Tak mendengar suaramu
Aku tak biasa bila tak memeluk dirimu
Aku tak biasa bila ku tidur
Tanpa belaianmu
Aku tak biasa aku tak biasa 

Aku tak biasa bila tiada kau di sisiku
Aku tak biasa bila ku
Tak mendengar suaramu
Aku tak biasa bila tak memeluk dirimu
Aku tak biasa bila ku tidur
Tanpa belaianmu

Aku tak biasa bila tiada kau di sisiku
Aku tak biasa bila ku
Tak mendengar suaramu
Aku tak biasa bila tak memeluk dirimu
Aku tak biasa bila ku tidur
Tanpa belaianmu
Aku tak biasa aku tak biasa 

Aku tak biasa

Comments

Popular posts from this blog

Dewi Purwati - Bangku Tua Jadi Saksi

  Bila ku duduk di sini Ku ingat belaian sayangmu Di sini di bangku ini Ada memory kau dan aku Saling lepas rindumu dan rinduku Saat kau kecup pipiku Serasa jantungku melayang Berdebar debar di dada Saat jemari tanganku Kau kecup dengan mesranya Aduh sepanas api yang biru Di sini di bangku tua ini Ku ingin seperti yang dulu Ada tawa ada candamu Ada pandangan mesramu Masihkah kau ingat ke sini Kau belai rambut dengan mesra Kau nyatakan cinta setia Sungguh indah penuh kenangan Masihkah kau ingat sayang Di bangku tua ini Yang masih ingatkah bangku tua ini Di sana kau belai rambutku Dan kau nyatakan cinta setia kepadaku  Seneng deh sampai sampai Ku bawa dalam mimpi Percaya nggak ? Di sini di bangku tua ini Ku ingin seperti yang dulu Ada tawa ada candamu Ada pandangan mesramu Masihkah kau ingat ke sini Kau belai rambut dengan mesra Kau nyatakan cinta setia Sungguh indah penuh kenangan Di sini di bangku tua ini Ku ingin seperti yang dulu Ada tawa ada candamu Ada pandangan...

Kr. Telaga Biru - Tuti Trisedya

Waktu bulan mulai bercahya Pancarkan sinarnya Berkilauan air di telaga Telaga biru maya Di tengahnya bambu sejuta Menghijau warnanya Kemilau sinarnya di telaga Telaga biru maya Diwaktu malam bulan purnama Terdengar nyanyian surga Bidadari yang bersuka riang Menghibur hati di telaga Di tengahnya rimba yang sunyi Telaga bidadari Bunga surga yang mengharumi Telaga biru suci Diwaktu malam bulan purnama Terdengar nyanyian surga Bidadari yang bersuka riang Menghibur hati di telaga Di tengahnya rimba yang sunyi Telaga bidadari Bunga surga yang mengharumi Telaga biru suci

Si Mentok Gemuk Dan Cacing Tanah

Tersebutlah kisah di sebuah desa ditepian hutan yang masih lebat, disana terdapat sebuah sendang yang sangat jernih airnya. Masyarakat desa menyebutnya dengan Sendang Ijo . Karena sangat jernih airnya, sehingga dasar sendang yang cukup dalam dan luas itu bisa dilihat dari atas, yang ternyata di dasarnya banyak ditumbuhi pepohonan air. Sehingga airnya berwarna kehijau-hijauan, selaras dengan warna daun pohon-pohon tadi. Setiap hari masyarakat desa menggunakan air sendang itu untuk keperluan rumahtangga sehari-hari, misalnya untuk mencuci, mandi dan keperluan lainnya. Tidak jarang juga anak-anak desa sering bermain-main di sendang itu untuk mandi. Disuatu pagi yang masih tamaran, karena matahari belum muncul di ufuk timur segerombolan menthok berjumlah puluhan dipimpin Si Menthok Gemuk , yang oleh kawanannya sering di panggil Bos Mendem , seperti biasa mencari sarapan pagi di sendang Ijo. Gerombolan menthok dengan rakusnya memakan apa saja yang bisa dimakannya. Dan yang menjadi...