Skip to main content

Didi Kempot - Arum Ndalu

Pupur lan gincu nambahi ayu
Akeh priyo sing gandrung sliramu
Senajan uwis ngerti, ngerti sliramu
Kembang arum ndalu

Soko kulino tresnaku ono
Pingin ngentaske kowe soko ino
Senajan diomong tonggo
Dadi gunjingane konco
Tresnaku ra luntur kanggo sliramu

Kabeh wis pesten pestiku urip karo sliramu
Jodho kui soko Gusti manungso sing nglakoni
Aduh Gusti moho kuoso mugi karso paring pirso
Kerso maringi pepadhang tresnaku lan tresnamu
Tresnaku lan tresnamu tresnaku lan tresnamu

Music

Pupur lan gincu nambahi ayu
Akeh priyo sing gandrung sliramu
Senajan uwis ngerti, ngerti sliramu
Kembang arum ndalu

Soko kulino tresnaku ono
Pingin ngentaske kowe soko ino
Senajan diomong tonggo
Dadi gunjingane konco
Tresnaku ra luntur kanggo sliramu

Kabeh wis pesten pestiku urip karo sliramu
Jodho kui soko Gusti manungso sing nglakoni
Aduh Gusti moho kuoso mugi karso paring pirso
Kerso maringi pepadhang tresnaku lan tresnamu
Tresnaku lan tresnamu tresnaku lan tresnamu

Soko kulino tresnaku ono
Pingin ngentaske kowe soko ino
Senajan diomong tonggo
Dadi gunjingane konco
Tresnaku ra luntur kanggo sliramu

Comments

Popular posts from this blog

Dewi Purwati - Bangku Tua Jadi Saksi

  Bila ku duduk di sini Ku ingat belaian sayangmu Di sini di bangku ini Ada memory kau dan aku Saling lepas rindumu dan rinduku Saat kau kecup pipiku Serasa jantungku melayang Berdebar debar di dada Saat jemari tanganku Kau kecup dengan mesranya Aduh sepanas api yang biru Di sini di bangku tua ini Ku ingin seperti yang dulu Ada tawa ada candamu Ada pandangan mesramu Masihkah kau ingat ke sini Kau belai rambut dengan mesra Kau nyatakan cinta setia Sungguh indah penuh kenangan Masihkah kau ingat sayang Di bangku tua ini Yang masih ingatkah bangku tua ini Di sana kau belai rambutku Dan kau nyatakan cinta setia kepadaku  Seneng deh sampai sampai Ku bawa dalam mimpi Percaya nggak ? Di sini di bangku tua ini Ku ingin seperti yang dulu Ada tawa ada candamu Ada pandangan mesramu Masihkah kau ingat ke sini Kau belai rambut dengan mesra Kau nyatakan cinta setia Sungguh indah penuh kenangan Di sini di bangku tua ini Ku ingin seperti yang dulu Ada tawa ada candamu Ada pandangan...

Kr. Telaga Biru - Tuti Trisedya

Waktu bulan mulai bercahya Pancarkan sinarnya Berkilauan air di telaga Telaga biru maya Di tengahnya bambu sejuta Menghijau warnanya Kemilau sinarnya di telaga Telaga biru maya Diwaktu malam bulan purnama Terdengar nyanyian surga Bidadari yang bersuka riang Menghibur hati di telaga Di tengahnya rimba yang sunyi Telaga bidadari Bunga surga yang mengharumi Telaga biru suci Diwaktu malam bulan purnama Terdengar nyanyian surga Bidadari yang bersuka riang Menghibur hati di telaga Di tengahnya rimba yang sunyi Telaga bidadari Bunga surga yang mengharumi Telaga biru suci

Si Mentok Gemuk Dan Cacing Tanah

Tersebutlah kisah di sebuah desa ditepian hutan yang masih lebat, disana terdapat sebuah sendang yang sangat jernih airnya. Masyarakat desa menyebutnya dengan Sendang Ijo . Karena sangat jernih airnya, sehingga dasar sendang yang cukup dalam dan luas itu bisa dilihat dari atas, yang ternyata di dasarnya banyak ditumbuhi pepohonan air. Sehingga airnya berwarna kehijau-hijauan, selaras dengan warna daun pohon-pohon tadi. Setiap hari masyarakat desa menggunakan air sendang itu untuk keperluan rumahtangga sehari-hari, misalnya untuk mencuci, mandi dan keperluan lainnya. Tidak jarang juga anak-anak desa sering bermain-main di sendang itu untuk mandi. Disuatu pagi yang masih tamaran, karena matahari belum muncul di ufuk timur segerombolan menthok berjumlah puluhan dipimpin Si Menthok Gemuk , yang oleh kawanannya sering di panggil Bos Mendem , seperti biasa mencari sarapan pagi di sendang Ijo. Gerombolan menthok dengan rakusnya memakan apa saja yang bisa dimakannya. Dan yang menjadi...