Ya...saya pun sering bertanya demikian dalam hati, kalau melihat keadaan Pulau Jawa saat ini, saat dimana saya masih bisa melihat dunia dengan baik. Dan juga masih bisa berpikir serta bernalar dengan baik.
Wong Jowo Ilang Jawane
Ungkapan ini sudah lama saya dengar, bahkan semenjak saya kecil, tapi entah apa maksudnya. Belakangan ungkapan atau unen-unen dari leluhur tersebut sering saya dengar serta lihat di social media. Youtube, Fb. dsb. Banyak pendapat. opini, tafsir masing-masing penulisnya, sesuia pemahamannya sendiri. Baguslah, intinya sudah banyak orang Jawa yang mau memperhatikan Kejawaannya, mau belajar memahami dirinya sendiri atau asal usul sebagai orang terlahir sudah menjadi Jawa.
Ya...kita semua tahu dan paham, bahwasannya kita lahir kedunia ini tak bisa memilih harus menjadi apa, menjadi siapa, harus bagaimana. Kalau bapak atau ibuku bilang sudah Ginaris Dadi Jowo (sudah digariskan menjadi orang Jawa). Saya tak mungkin menolak terlahir menjadi Jawa, saya bangga dan berbesar hati Dadi Wong Njowo. Dalam kehidupan atau prilaku sehari-hari pun saya berusaha tetap memakai adat istiadat budaya Jawa, tetapi harus tetap disesuakan dengan situasi kondisinya.
Wong Jowo Ilang Jawane ada yang mengartikan bahwa Wong Jowo banyak yang sudah menjadi Yahudi, Arab atau ke-arab-arapan, misalnya cara berpakaian, berbahasa, nama, dsb. Pendapat itu boleh-boleh saja dan tak ada yang salah, kalau melihat kenyataan yang ada. Semua terlihat dengan jelas di depan mata kita, cetho welo-welo,
Misal, saya bekerja di sebuah sekolah di Kebumen, setiap melihat daftar nama siswa-siswi/ absensi siswa, mayoritas anak bernama Arab. Yang bernama Indonesia atau Jawa paling-paling cuma 4-5 siswa, dari sekitar 20-30 siswa-siswi/ kelas. Pertanyaannya, apakah orangtua kalau memberi nama kepada anak-anaknya, malu menggunakan nama Indonesia/ Jawa, apakah ada maksud lain saya pun tidak tahu.
Cara berbahasa pun sama, uluk salam Kulonuwun...Monggo pun saya sangat lama tak mendengar, mungkin satu sekolah yang jumlahnya ratusan orang itu, cuma saya sendiri yang menggunakannya. Lagi-lagi tidak tahu apa alasan teman-teman saya itu, tak mau menggunakan bahasa ibunya sendiri.
Ambal warso/ ulang tahun berganti milad, melayat orang meninggal diganti takjiah dst. Demikian pula cara berpakain khas Yahudi banget, khususnya wanita atau perempuan. Jadi tak ada yang salah pendapat yang mengatakan bahwa Wong Njowo wis ilang Jawane dadi ke-Arab-arapan/ Yahudi. Tapi semuanya itu pilihan hidup, cara memandang dunia, masing-masing tak ada yang salah juga.
Kalau pendapat saya Wong Jowo Ilang Jawane yaitu, banyak orang Jawa yang hilang Kaweruh Jawanya, ilmu hidup cara Jawa. Pertama, misalnya leluhur Jawa telah mengajarkan bahwasanya wong urip iki kudu murup, orang hidup di dunia itu harus menyala/ menerangi. Dalam hal ini maksudnya adalah, manusia itu hidupnya harus membuat terang sesama (tumbuhan, hewan, atau yang ghoib) intinya seluruh janmo/ mahkluk yang ada di bhumi ini. Tak boleh semena-mena, merasa paling berkuasa, menjadi pemimpin di dunia berhak berbuat apa saja terhadap sesama.
Kita, hidup tanpa tumbuhan, hewan tak akan mampu bertahan, manusia akan musnah dengan sendirinya, kebalikannya tumbuhan, hewan hidup tanpa manusia, saya yakin mereka lebih bahagia Jadi lebih berkuasa mana manusia atau hewan dan tumbuhan, yang layak disebut pemimpin di bhumi siapa ???
Kedua, kebanyakan wong Njowo wis ora nduwe/ tidak punya unggah-ungguh, sopan santun, tatakrama sebagai manusia Jawa, misal (bagi yang tinggal di Jawa) pasti akan tahu bagaimana perilaku anak-anak jaman sekarang, contoh di sekolah tempat saya bekerja, tak ada satu pun siswa/ siswi yang bisa berbahasa Jawa dengan baik, tak perlu boso Jowo kromo inggil, hanya berbahasa Jawa yang sedang-sedang saja sudah sulit/ tak bisa. entah apa mahkluk nggak jelas yang telah merasukinya πππ.
Ok sekian dulu terimakasih teman-teman, saudara telah berkenan membaca tulisan saya ini, maturnuwun (Kebumen, 23 Pebruari 2021)
Comments
Post a Comment